Sisi Kecantikan Akhwat dan Ketampanan Ikhwan

Sasa Esa Agustina
Makan dan minum secukupnya

Agar cantik dan tampan, akhwat dan ikhwan tidak
boleh makan seenaknya/sesukanya dengan penuh kerakusan, tapi makan
sebatas dapat menegakkan tulang-tulangnya untuk mendapatkan tenaga
dalam menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik.

Ingatlah firman Allah swt.: “?makan dan
minumlah, janganlah berlebih-lebihan/melampaui batas. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al
A?raaf 7: 31). Kemudian dalam sebuah hadits diterangkan: “Dari Ibnu
Umar r.a. dari Nabi saw. sabdanya: “Orang-orang kafir makan dengan
tujuh perut, dan orang mukmin makan dengan sebuah perut.” (H.R. Muslim).

Rasulullah saw. menghindari makan dan minum
berlebih-lebihan. Beliau makan dan minum hanya pada saat perut terasa
lapar dan mengisi perut dalam tiga bagian, sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas. Akibat banyak
makan biasanya mudah obesitas, mudah terkena penyakit, cenderung malas
ibadah, malas bekerja. dll.

Berolah Raga

Supaya kecantikan/ketampanan yang telah Allah swt.
anugerahkan pada kita dapat dijaga, upayakan kondisi fisik selalu bugar
melalui olah raga sesuai minat/usia masing-masing. Aturlah waktunya
disela-sela kesibukan yang ada. Dalam suatu hadits diterangkan: “Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” (H.R. Muslim).

Dengan berolah raga insya Allah jasad kita dapat
lebih terawat, sehingga kondisi tersebut dapat membantu ikhwan/akhwat
melaksanakan tugas rutin sehari-hari dengan energik.

Menjaga kebersihan

Yang perlu dijaga kebersihannya adalah seluruh anggota badan dan pakaian. Hadits Bukhari menerangkan: “? Mandilah pada hari Jumat dan keramaslah meskipun kau tidak dalam keadaan junub dan pakailah wewangian?” Perbedaan wewangian antara ikhwan dan akhwat ada, yaitu: Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Parfum
pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya dan parfum
wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (H.R.
Tirmidzi dan An-Nasa?i).
Ikhwan/akhwat hendaknya dapat menjaga penampilan diri dari bau keringat yang tidak sedap.

Juga dalam hadits Bukhari dan Muslim diterangkan
kebersihan badan seseorang dengan menjaga lima perkara yang termasuk
fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak,
memotong kuku, dan memendekkan kumis.

Untuk kebersihan pakaian, Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan hadts dari Jabir r.a., ia berkata: “Rasulullah
saw. pernah mengunjungi aku. Ketika beliau melihat seorang laki-laki
lewat dengan pakaian lusuh dan kumal, beliau bertutur: Rupanya ia tidak
mempunyai sabun untuk mencuci pakaiannya itu.”
Pada hadits ini,
Rasulullah saw. tidak menyukai seseorang yang bertemu dan berkumpul
dengan orang lain memakai baju yang kotor dan lusuh selama ia mampu
mencuci dan membersihkannya.

Rasulullah saw. mengajarkan kita bahwa pakaian
seorang muslim harus selalu rapi dam bersih, sehingga penampilannya
sedap di pandang mata. Tentu saja, pakaian tersebut tidak perlu yang
selalu baru apalagi kebiasaan mengoleksi baju dengan jumlah
berlebih-lebihan, yang terpenting adalah rapi dan bersih, karena
pakaian yang menjadi rizki kita sesungguhnya apa-apa yang sampai tidak
dapat terpakai lagi oleh diri masing-masing.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut, “Seandainya
tidak memberatkan kepada umatku, pasti aku suruh mereka untuk bersiwak
setiap kali akan shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Memelihara kebersihan rambut, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang memiliki rambut, maka hendaklah ia menghormatinya (memeliharanya).” (H.R. Abu Daud dan Abu Hurairah r.a.).
Menghormati rambut itu maksudnya membersihkan, menyisir, memberi
wewangian (minyak rambut), dan memeliharanya dengan baik. Islam tidak
menyukai orang yang membiarkan rambutnya berantakan/acak-acakan, kotor,
dan bau.

Merapikan Diri

Firman Allah swt.: “Katakanlah, siapakah yang
mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya
dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik-baik?” (Q.S. Al
A?raf 7: 32).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Qurthuby berkata:
“Imam Makhul meriwayatkan dari Aisyah r.a., ia bercerita: “Pernah
sekelompok sahabat menunggu Rasulullah saw. di depan pintu. Ketika
beliau hendak keluar menemui mereka, beliau bercermin di air yang ada
di dalam bejana di dalam rumah. Setelah beliau merapikan rambut dan
jenggotnya, aku (Aisyah) berkata: “Engkau lakukan ini, wahai
Rasulullah?” “Ya, bila seseorang akan menjumpai saudaranya hendaklah ia
merapikan dirinya. Karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai
keindahan,”
jawab Rasulullah saw.”

Setiap orang perlu memelihara kerapian dirinya,
janganlah membiarkan diri dalam penampilan kusut dan kumal dengan dalih
ingin zuhud. Rasulullah saw. sendiri menganjurkan untuk berpenampilan
rapi, padahal beliau adalah orang yang paling tawadhu dan zuhud.

Maka, selama memperapi diri itu tidak berlebihan, Allah swt. menganjurkan, “Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,
makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah
yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk
hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang
baik-baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) untuk orang-orang
beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari
kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang
yang mengetahui.” (Q.S. Al A?raf 7: 31-32).

Namun wanita muslimah tidak boleh tabaruj. Allah
swt. telah melarang tabaruj melalui Q.S. An-Nur 24 : 60 dan Q.S. Al
Ahzab 33 : 59. Menurut Ibnu Katsir, tabaruj berarti wanita yang keluar
rumah dan berjalan/memamerkan diri di hadapan laki-laki (tabaruj
jahiliah). Menurut Bukhari, tabaruj adalah tindakan seorang wanita yang
menampakkan kecantikannya kepada orang lain, dan menurut Muqatil
tabaruj adalah wanita yang melepaskan jilbabnya, memperlihatkan kalung
dan gelangnya.

Juga wanita muslimah yang benar selalu sadar dan
ingat pada konsep sikap tawazun (pertengahan/keseimbangan) dalam segala
hal, jangan sampai berdandan/merapikan diri berlebih-lebihan atau
mengukur penampilan diri berdasarkan kekayaan materi. “Celakalah
hamba dinar dan dirham dan hamba sutera dan beludru. Jika ia diberi
nikmat, ia senang dan bila tidak diberi ia benci.” (H.R. Bukhari).

Yang terakhir, agar penampilan ikhwan/akhwat dapat
cantik dan tampan perlu dilengkapi dengan terpeliharanya unsur akal
pikiran dengan ilmu. Memang, tidak semua orang punya kecerdasan dan
kesempatan yang sama. Tetapi, ikhwan/akhwat harus selalu mencari dan
meminta tambahan ilmu kepada Allah swt., sebagaimana diterangkan dalam
firman Allah swt., “?Dan Katakanlah, “Ya Rabbi, tambahkanlah
kepadaku ilmu.” (Q.S. Thaha 20: 114). Dalam sebuah hadits, Aisyah r.a
berkomentar: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak
malu-malu untuk bertanya dalam rangka tafaquh fiddin (mendalami masalah
agama).” (H.R. Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, yang perlu tetap diusahakan
adalah memiliki kepedulian untuk selalu berusaha
menambah/memahami/mengamalkan ilmu Islam sedikit demi sedikit, adanya
proses mencari ilmu sampai akhir hayat, sebab hal tersebut akan menjadi
landasan berfikir dan beramal seseorang. Begitu pula ilmu lainnya, kita
pelajari sebagai sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
swt. Sehingga insya Allah, dengan terpadunya unsur hati, jasad/fisik,
dan ilmu pada diri ikhwan dan akhwat, ketampanan dan kecantikan kita
dapat membawa keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu A?lam Bishshawab.

Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku,
cahaya di kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di
kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya
pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya pada rambutku,
cahaya pada kulitku, cahaya pada dagingku, cahaya pada darahku, cahaya
pada tulang-tulangku. Wahai Tuhanku, besarkanlah bagiku cahaya dan
berikanlah bagiku cahaya dan jadikanlah padaku cahaya dan tambahkanlah
padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya, tambahkanlah padaku cahaya.
Aamiin.

Sumber : http://www.dudung.net

Leave a Reply